October 5, 2005

Bila Uang dan Penghargaan Tak Lagi Berharga

Filed under: My Thought

Inilah yang saya simpulkan dari membaca artikel tentang penolakan ilmuwan kimia perancis Yves Chauvin atas penghargaan hadiah keilmuan tertinggi Nobel di bidang kimia padanya. Bila ilmuwan lain kemungkinan akan berteriak gembira dan bangga atas pengakuan kehormatan atas jerih payahnya, Chauvin malah berpendapat pemberian Nobel kimia padanya adalah salah satu tindakan yang memalukan dan sama sekali tak membuat dirinya gembira. ” Saya tak akan datang ke ke Stockholm 10 desember yad!” katanya tegas menjawab sedikit pertanyaan wartawan yang mulanya ditolak kedatangannya di pintu depan rumah sewanya.

Direktur kehormatan dari Institut Français du Pétrole (IFP) di Rueil-Malmaison ini mengakui penemuannya–bersama Schrock dan Grubbs–memang teramat bermanfaat, namun ia menganggap hidupnya selama ini yang ia miliki sudah mententramkan “..dan kini saya merasa hal itu tak dapat lagi saya rasakan”. Bila bagi kebanyakan orang 1/3 bagian dari 1,1 juta euro akan membuat segala mimpi menjadi kenyataan, namun tidak bagi Chauvin ” tidak..uang tidak berharga di mata saya, saya pun tak perduli berapa banyak uang yang saya terima”. Ia hanya ingin dirinya jangan diganggu oleh gegap gempita dunia ” kini akan saya tutup pintu , dan tolong jangan membuat masalah yang baru untuk saya.”.

Cara pandang Chauvin di usianya yang senja menurut saya tidak eksentrik, walau mungkin “jalan pikiran” nya akan dianggap secara umum agak “tidak seperti kebanyakan orang”. Di sini saya memang tidak melihat seorang Chauvin dari “idealnya” nilai norma kebaikan yang seorang manusia miliki. Saya hanya tergelitik dengan sikapnya yang menolak penghargaan keilmuan tertinggi impian para ilmuwan serta ketidakperduliannya dengan nilai hadiah uang yang sedemikian besar.

Dengan adanya kasus seperti Chauvin ini maka makin menambah keyakinan saya bahwa ketentraman dan kebahagiaan memang tak tergantung dengan kuantitas materi yang dimiliki. Memang tak dapat dipungkiri, untuk menjalani roda kehidupan posisi uang adalah vital, namun ia bukan segala galanya. Penghargaan juga tak selamanya membawa kebahagiaan dan kepuasan. Bisa jadi malah hal tersebut dianggap sebagai penghancur ketenangan hati. Cara pandang demikian teramat ideal bila saya miliki dalam fase tertentu hidup saya dan semoga tak harus menunggu hingga usia diri makin bertambah dan bertambah.

Hmm, terdengar klise bukan? Namun seorang Chauvin yang hidup di era modern ini telah membuktikannya (baca: lepas dari alasan dasar ketidakberminatannya terhadap Nobel beserta hadiahnya :) ).

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://dyka.blogsome.com/2005/10/05/bila-uang-dan-penghargaan-tak-lagi-berharga/trackback/

  1. alhamdulillah banyak orang yang memang pada dasarnya hanif dan gak serakah…terlepas dari religi mereka…fitrah mungkin ya.. :? yang menganggap gak semuanya harus dari materi..yang sudah merasakan cukup dengan apa yang dimiliki..gak serakah..sippp

    bravo chauvin…salut ..

    semoga kita bisa jadi muslim yang meletakkan dunia hanya ditangan tapi tidak di hati ya mbak in..saling ngedoain ya.. ;)

    gimana puasa anak2?? :)

    Comment by -ari- — October 10, 2005 @ 4:43 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here