Knowing Me, Knowing You…
“…Knowing me, knowing you (ah-haa)
There is nothing we can do
Knowing me, knowing you (ah-haa)
We just have to face it, this time we’re through
(this time we’re through, this time we’re through
This time we’re through, we’re really through)
Breaking up is never easy,
I know but I have to go
(I have to go this time
I have to go, this time I know)
Knowing me, knowing you
It’s the best I can do…”
Lagu yang sedang ditayangkan di salah satu stasiun swasta di negeri ini pada acara khusus yang menukil sekilas sejarah grup musik ABBA cukup menarik perhatian saya. Buku yang mulanya jadi prioritas utama, akhirnya saya singkirkan. Sebenarnya bukan alunan musik grup tenar ini yang menjadi perhatian utama –walau harus diakui, lagu lagu mereka memang manis untuk didengar–, namun lebih pada keingintahuan tentang sejarah perjalanan hidup kelompok musik mereka lah yang membuat buku di tangan menjadi prioritas kedua
. Ketertarikan pada lika liku hidup mereka, tepatnya di perjalanan menikah-bercerai dua pasangan tersebut.
Björn dan Agnetha menikah tahun 1971, kemudian mengakhiri kebersamaan payung pernikahan di tahun 1979. Dua tahun kemudian Bjoern menikah kembali. Demikian halnya dengan Frida dan Benny, image pasangan ideal akhirnya patah dengan perceraiannya di tahun 1981. Yang mengherankan saya, Bjoern-Agnetha-Frida-Benny yang akhirnya masing masing menjadi mantan bagi yang lain, tetap bisa bekerja bersama untuk sekian tahun di bawah payung grup musik ABBA. Lepas dari alasan materi, uang, penjagaan imej dan ketenaran, saya cukup salut pada mereka yang tetap mampu bertatap muka–bahkan bekerjasama– setelah peristiwa pahit perceraianya.
Bila saya mencoba mengamati fenomena perceraian yang ada, sepertinya amat sulit sekali menemukan satu keadaan di mana ‘mantan istri/suami’ dapat menjalin hubungan yang baik, terlebih harmonis, pada mantan pasangannya. Yang ada biasanya malah saling tak ingin bertatap muka, tak simpatik, bermusuhan bahkan terkadang api dendam juga membara di sana
. Mengapa seseorang yang memang digariskan untuk berpisah hidup di dunia malah harus makin melukai hati dan diri ya?. Perceraian memang menyakitkan, namun bukankah menyiksa diri dengan sikap bermusuhan dan dendam sepertinya malah memperburuk keadaan?.
Ah, entahlah…mungkin saya belum tahu banyak tentang luka dan duka seseorang yang harus mengakhiri rumah tangganya dengan cara demikian. Karenanya sulit sekali untuk dapat membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di proses tersebut. Hanya satu yang saya yakini, perceraian adalah satu tindakan yang ditolerir, namun merupakan alternatif terakhir yang dapat diambil saat rumah tangga bukan membawa kebaikan, malah keburukan. Semoga, kita dijauhkan darinya, amin.
Kembali ke ABBA, …bila Bjoern, Agnetha, Frida dan Benny saja dapat tetap ‘berhubungan baik’ setelah mereka berpisah hidup sebagai suami istri, mengapa pasangan lain yang digariskan dalam kondisi serupa sulit mewujudkannya ya?.

mbak in happy belated birthday…didoain diberikan ALlah selalu yang terbaik…amien..
dikasih banyak kesabaran dan kemudahan…:)
sttt..jangan lupa doanya juga buat aku ya.. ;;)
Comment by -ari- — December 7, 2005 @ 8:21 am